fbpx

“Kadang yang ini udah makan kenyang, yang itu cuma ngeliatin. Kadang yang sana udah antri di poli, yang ini masih kebingungan menuju ke Rumah Sakitnya. Tanpa bekal uang di kantong, hanya mengandalkan Jaminan kesehatan untuk berobat.”

Ratusan bayi dan anak dhuafa yang alami sakit kronis dari pelosok kebingungan di Kota Pelajar. Mereka harus berjuang mati-matian untuk menjemput kesembuhannya. Yayasan Anugrah Tuhan Hafara, akan terus berusaha untuk mendampingi dan menampung mereka.

Salah satu pasien yang saat ini didampingi dan ditampung ialah Afifah, pejuang cilik yang sedang melawan Hemangioma atau tumor jaringan lunak di wajahnya.

“Tumor itu sudah renggut empat panca indera anak saya. Dia sudah gak bisa liat, bernafas pun harus memakai mulut. Kalau lagi periksa kadang bingung harus menginap di mana,” ibunda Afifah.

Begitu pula dengan Aris, pejuang Hidrosefalus ini harus menahan sakit karena cairan yang ada di kepalanya semakin dan tubuhnya semakin kaku sehingga tak bisa digerakan. Ia tak bisa berjalan maupun duduk. Dulu ketika masih bisa digendong Aris masih sering berobat ke rumah sakit menggunakan becak.

Nasib sama juga terjadi pada Alfi Nur Febian (6 tahun). Ia diprediksi dokter tak bisa bertahan lama. Saat lahir, tempurung Alfi sangat lembek dan terdapat cairan. Ayahnya bingung bagaimana mencukupi kebutuhan dasar Alfi ataupun kebutuhan penunjang lainnya. Apalagi, untuk operasi. Begitu juga dengan Abid. Ia diprediksi tak akan selamat sejak dalam kandungan. Beruntung dirinya masih bisa bertahan hingga usia 9 bulan. Sebagai tukang kuli banunan, sang ayah belum bisa memperoleh dana untuk operasi Abid. Padahal setiap hari kepalanya terus membesar. Belum lagi jarak yang cukup jauh untuk bisa sampai ke rumah sakit.

Tak kalah miris, kisah Dude yang ayahnya hanya penjual barang bekas sering kesusahan jika harus membayar biaya pengobatan. Jarak yang sangat jauh menjadikan Dude tidak dapat mendapatkan penanganan yang cukup. Padahal, kedua kakinya kaku. Jika tak mendapatkan pengobatan, akan berakibat fatal.

Begitu juga dengan Ayu Nurjannah, gadis 26 tahun ini alami Cerebral Palsy sejak usia 3 tahun. Ayu adalah yatim piatu yang hanya tinggal berdua dengan sang kakak. Ayu tak pernah dibawa ke RS. Sedihnya, bakteri di tubuh Ayu terancam sampai ke otak dan mematikan fungsinya.

Ada pula Ibrahim Zain Alfatah. Perutnya membesar melebihi bobot tubuhnya sendiri karena kotoran terus menumpuk. Setiap hari Zain tak bisa tidur nyenyak. Kalau terlentang terasa sesak, pindah posisi sedikit saja perutnya akan berbunyi.

Meski mereka bisa tinggal di rumah singgah, mereka juga membutuhkan biaya hidup lain. Pandemi membuat kondisi mereka semakin memprihatinkan karena donatur semakin berkurang, sedangkan pasien terus datang silih berganti.

“Sebenarnya kami ingin terus bisa membantu mereka, namun terkadang pihak rumah singgah terkendala fasilitas yang ada.”

Sahabat, nasib mereka dan ratusan anak yang ditampung secara sukarela di rumah singgah Hafara bergantung kepada pihak relawan. Mereka sudah kehabisan uang dan bekal. Bahkan, banyak yang tak mampu untuk kembali ke RS.

Mari bersama-sama bantu perjuangan mereka para relawan untuk terus memberikan pendampingan terbaik kepada pasien secara gratis. Kamu bisa ikuti langkah-langkah di bawah ini:

  1. Klik “DONASI SEKARANG”
  2. Masukkan nominal donasi
  3. Pilih Metode Pembayaran

Yuk berikan sedekah terbaikmu! Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk memenuhi fasilitas dan penunjang pengobatan, seperti sewa rumah singgah, konsumsi, mobilitas, pemenuhan gizi, pembelian pampers, dan akan ada tim pendamping ke rumah sakit jika orang tua berhalangan.

Insya Allah, do’a anak dan dhuafa sakit kronis tak akan menghentikan pahala untuk kita.

    Tidak ada update baru belum

Belum ada kontributor