fbpx

Disabilitas Wakafkan Harta dan Jiwa Raga Untuk Bangun PAUD dan TK

DSC05479

“Mayoritas anak di desa ini tinggal bersama kakek nenek nya. Kebanyakan orang tuanya merantau ke luar kota. Bukan hal yang mudah untuk mereka bisa sekolah. Butuh jarak 3-5 km untuk sampai ke sekolahan. Akhirnya saya mewakafkan rumah dan diri saya untuk TK dan PAUD Jasmine As-Salam,” Joko Murtanto

Sebagai penyandang disabilitas, Pak Joko secara sukarela mengelola PAUD dan TK yang ia dirikan bersama sang istri. Tinggal di daerah terpencil pinggiran Waduk Kedung Ombo, banyak anak-anak yang tak bisa sekolah karena terhalang biaya dan akses ke sekolah yang sulit. Berawal dari 5 orang murid, kini jumlah murid PAUD dan Tk sudah mencapai 25 orang anak dan 5 guru termasuk Pak Joko dan istrinya.

“Guru-guru di sini sebelumnya sudah bekerja di tempat lain. Tapi saya ajak mereka untuk sama-sama memakmurkan desa. Alhamdulillah mereka bersedia bergabung meski gajinya tak seberapa,” kata Pak Joko.

Dengan segala keterbatasannya, Pak Joko berusaha berkarya menggunakan kedua tangannya. Untuk melakukan semua aktivitas harian seperti makan, mandi, dan mengenakan baju ia selalu menggunakan tangan dengan semampu nya. Biaya operasional PAUD dan TK tersebut, Pak Joko mulai menyisihkan sedikit rezeki dari hasil menjual karya-karyanya. Dirinya ingin menyempurnakan PAUD dan TK yang mulai ia bangun di samping rumahnya. Akan tetapi, saat ini prosesnya terhenti hanya sampai pondasi karena keterbatasan biaya.

Pak Joko bagai malaikat tak bersayap yang memberikan harapan baru bagi anak-anak di desa Gilirejo. Walau gerak fisiknya terbatas, ia selalu mendampingi anak-anak didik nya belajar sejak pagi hingga sore. Rumah Pak Joko ternyata tak hanya menjadi sekolah, tetapi juga sebagai tempat belajar online dan ada WIFI gratis dan juga belajar mengaji (TPA) setiap sore. Kini, santri nya sudah berjumlah sekitar 40 anak. Sebelum mengaji, Pak Joko memberikan kesempatan kepada mereka untuk membaca di pojok baca.

“Sebenarnya kegiatan TPA itu dimulai pukul 4, tetapi anak-anak biasa datang satu jam lebih awal untuk membaca buku-buku yang kami dapat dari para donatur,” kata Pak Joko.

Selain mempermudah akses pendidikan untuk anak-anak di desanya, Pak Joko juga sering memberikan makanan sehat kepada anak-anak di desanya. Di rumahnya pula, Pak Joko membuka jasa print gratis bagi siapapun warga yang membutuhkan. Hal ini ia lakukan karena di desanya tidak ada satupun tempat untuk foto copy. Untuk menjangkau tempat foto copy terdekat saja, mereka harus berjalan berkilo-kilo meter menuju pusat kota.

Tinggalkan komentar